Oleh: amplas | Juli 4, 2008

Juara Lomba Mengarang Tingkat SMAN 14

Wahidin Halim, Khalifah dan Suri Tauladan bagi Tangerang

Siapakah Wahidin Halim ? mungkin sudah banyak orang mengenal namanya, terutama bagi warga Kota Tangerang. Karena sosoknya sebagai Walikota Tangerang. Dan bagaimana sebenarnya pribadi pria nomor satu di Kota Tangerang ini yang sekaligus adik dari Hasan Wirayudha sang Menteri Luar Negeri ?. belum banyak yang tahu lebih jauh tentang pria berlesung pipit ini. Sekilas profil megenai dirinya mungkin akan menjawab pertanyaan masyarakat yang masih Pro dan Kontra dengan keberadaanya yang konon waktu itu telah mencuri perhatian publik lantaran pencekalan terhadap Goyangan Hot Dewi Persik, mantan Istri dari Saiful Jamil itu. Apakah gerangan konsep dan pemikirannya dalam memajukan Kota Tangerang yang berasaskan Akhlaqul Karimah dan berniat menjadikan warganya sebagai individu yang saleh dan berintelektual ?. sebaiknya kita telaah dan mengenalnya lebih dekat lewat info berbagai opini tentang dirinya.

Wahidin Halim, lahir pada tanggal 14 Agustus 1954 di Kampung Pinang Tangerang. Sebuah tempat yang letaknya jauh dari pusat aktivitas kota. Beliau hidup dalam latar belakang keluarga sederhana. Beliau adalah putera ketiga dari Sembilan saudara dari pasangan H. Djiran Bahjuri dan Siti Rohana. Sang Ayah berprofesi sebagai guru SD di Poris Plawad, sedangkan ibunda tercinta hanyalah ibu rumah tangga biasa. Namun meskipun begitu, beliaulah yang mengantar anak-anaknya menuju gerbang kesuksesan seperti sekarang ini.

Ekonomi yang sulit menuntut Wahidin kecil terbiasa menggembala kerbau miliknya ayahnya serta membantu memasarkan hasil pertanian orangtuanya ke Pasar Anyar tiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Beliau juga harus rela tak mengenakkan alas kaki seperti anak sekolah pada umumnya. Dan baginya berjalan kaki setiap hari dari rumahnya ke ciledug merupakan suatu kewajiban, sebab sang ayah tak mampu membelikannya sepeda. Tapi justru kesehariannya yang seperti itulah membuat Wahidin terasa dalam mengarungi hidup. Dan layaknya anak yang lain, ia masih dapat merasakan senangnya bermain bersama teman-temannya entah itu bermain layangan, mengejar-ngejar pesawat terbangatau hanya sekedar mandi di jernihnya Kali Angke. Semua itu beliau lewati tanpa beban.

Kecintaannya pada dunia pendidikan sudah mendarah daging nampaknya berkat warisan sang ayah yang berprofesi sebagai guru itu. Kenyataan pengalaman pahit yang dulu sempat ia rasakan saat mengenyam pendidikan memotivasi dirinya untuk lebih memusatkan kinerjanya sebagai Walikota pada tiap-tiap sekolah. Salah satu pengalaman buruknya saat ia harus belajar sambil berdiri dikelas, bukan karena dihukum melainkan karena fasilitas bangku disekolahnya sangat minim. Sampai akhirnya mengharuskan beliau membawa kursi dari rumahnya yang sudah tidak layak pakai, bukan hanya itu, ayahnya pun sering turun tangan membetulkan kursi-kursi rusak disekoahnya, Selain itu, beliau juga sempat menceritakan pengalamannya kala ia diomeli gurunya karena toilet guru. Ya, pada saat itu tak ada fasilitas toilet untuk siswa. Semua itulah yang menyemangati Wahidin untuk membangun sekolah-sekolah berfasilitas lengkap di Kota Tangerang ini. Dan sudah lebih dari seratus sekolah berhasi beliau bangun dan perbaiki. Ditambah lagi, beliau sudah membangun Yayasan Kemanusiaan Nurani Kami sejak tahun 1977 yang masih aktif memberikan bea siswa pada 150 orang mulai dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi. Berkat jasa –jasa inilah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan Kota Tangerang, Wahidin berhasil meraih penghargaan Satya Lencana Karya Pembangunan pada tahun 2007.

Selepasnya mengenyam pendidikan di SMU Tangerang pada tahun 1972, beliau melanjutkan studinya ke Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIP) Universitas Indonesia dengan jurusan Administrasi Negara mengikuti jejak kakaknya. Disini beliau sangat aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan. Cerminan kepemimpinan dan kedisiplinan dalam dirinyalah yang menghidupkan kepercayaan warga didesanya untuk mencalaonkannya sebagai Kepala Desa selepasnya menyandang gelar Sarjana. Berhasil terpilih sebagai Kepala Desa termuda dan berpendidikan Sarjana Pertama di Tangerang, terus mengantarnya sebagai aktivis sosial yang mengabdi sepenuhnya pada masyarakat. Merintis karir sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil) membawanya baik menjadi Sekda Kota Administratif Tangerang, Kabag Kabupaten Tangerang, Sekda Kota Tangerang, hingg akhirnya beliau menjabat sebagai Walikota Tangerang periode 2003-2008. Perjuangan karir yang jarang dimiliki oleh orang lain.

Rasa minat pada olahraga juga membawanya pada jabatan sebagai pengurus serta manuver Persita, dan kini sebagai ketua umum Persikota. Jelas ini mencuatkan namanya dikancah persepakbolaan Nasional. Tidak berhenti sampai disitu bebagai wujud kepeduliannya pada masyarakat tersampaikan lewat penghargaan-penghargaan berikut ini :

1. Bidang Pelayanan : Piala Citra Bhakti Abdi dari Presiden RI. Untuk pelayanan terbaik tingkat Nasional tahun 2006.

2. Bidang Pemerintahan & Pelayanan Publik : Mens Obsession Award tahun 2006.

3. Bidang Keuangan & Pajak, pengelolaan keuangan terbaik se-Banten (2005 -2006) dan peringkat terbaik intensifikasi PBB tingkat Provinsi Banten.

Dan masih banyak penghargaan lain yang ia sandang selama menjabat sebagai Walikota di Tangerang sungguh prestasi gemilang yang menakjubkan. Pantas saja beliau sangat diperhatikan dan keberadaannya menjadi peran penting bagi masyarakat luas kemampuan intelektual, integritas moral, serta kepiawaiannya berkomunikasi dengan berbagai kalangan menjadikannya seorang birokrat yang diperhitungkan dalam ormas-ormas besar. Pengalaman dan kinerjanya yang baguslah menjadi alasan bagi Golkar, PKS, dan Partai Demokrat yang kemungkinan besar akan mendukung Wahidin Halim dalam PILKADA Kota Tangerang pada Agustus mendatang. Bahkan dengar-dengar beliau akan ditunjuk sebagai Cagup Banten.

Tapi disela kesuksesan beliau sebagai orang besar, ada saja kontrovesi yang mengkaitkan namanya tahun 2005 lalu, Kotamadya geger akibat pemberlakuan Perda Nomor 7 dan 8 tentang miras dan pelacuran. Kendala dan hambatan dating dari pihak-pihak yang kontra dengannya. Bagaimana tanggapan dari beliau sendiri ?. Bapak dari Lucky Winiastri, Nesya Sabina dan M. Fadholin Akbar ini menjawab dengan lugas dalam salahsatu karya tulisnya yang berjudul : “Piagam Akhlaqul Karimah”. Beliau memaparkan bahwa pemerintahan yang bersih, berwibawa dan berkeadilan sosial dapat dibangun melalaui konsep-konsep yang Islami. Dan salahsatu kunci terpenting untuk itu adalah “Kesalehan individu” para pemimpinnya tidak hanya itu, dalam mencegah kemungkaran menurut Wahidin, seperti membersihkan kota dari pelacuran, Minuman Keras, Kriminalitas, dan berbagai penyakit sosial lainnya sangat memerlukan peran aktif dari masyarakat dan seharusnya memberlakukan perda nomor 7 & 8 itu tidak menjadi beban masyarakat yang beriman. Jelaslah mengapa beliau menjungjung nilai akhlaqul karimah seperti yang dicontohkan Rosulullah S.A.W dalam memimpin Kota Madinah. Dan buku ini cukup menjawab juga mengapa beliau awal maret lalu mencekal artis dangdut Dewi Persik untuk tidak pentas di Tangerang. Karena menurutnya goyangan dan pakaian yang seperti kurang bahan itu akan menghancurkan moral masyarakat Tangerang. Tindakan terpuji itu seharusnya kita jadikan acuan untuk menangkal berbagai anggapan miring padanya selain dari buku tersebut, beliau juga sudah menciptakan beberapa karyanya yang lain ditengah kesibukannya sebagai Walikota.

Wahidin Halim, yang tak lain adalah suami dari Ibu Nienik Nuraeni, merupakan satu dari sekian banyak pejabat yang berkepribadian jujur dan bersahaja. Tak banyak orang seperti beliau dikancah pemerintahan ini. Bukan sekedar omongan belaka atau promosi semata sungguh ini benar-benar tercemin apa adanya pada dirinya. Berbangga hatilah karena Kota Tangerang ini dapat dikelola sebaik mungkin olehnya, dan partisipasi masyarakat untuk membantunya mewujudkan Tangerang menjadi Kota Makmur berakhlak mulia sudah sepatutnya diberikan. Apabila kritik dan saran dari masyarakat diluncurkan padanya mungkin akan menjadi masukan sendiri bagi beliau. Mungkin Wahidin hanyalah manusia berkata pada umumnya, tetapi seuruh pengorbanan dan jasanya yang selama ini diberikan untuk kita membuatnya menjadi manusia yang nyaris sempurna seorang Khalifah dan Suri Tauladan yang baik bagi kemajuan generasi Kota Tangerang.

Dibacakan saat Acara Pelepasan Siswa Kelas XII

Angkatan I Tahun 2007/2008

Oleh : Elvira Octavianie

Juara I Lomba Mengarang tentang sosok Wahidin Halim

Tingkat SMA Negeri 14 Tangerang


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: